Perang Badar –Kehidupan di Madinah
semakin stabil. Perekonomian berjalan lancar. Rasulullah saw. perlu menjaga
ketenangan tersebut. Maka ia pun membangun kekuatan tempur. Beberapa ekspedisi
militer dilakukan. Di antaranya dengan mengirim ekspedisi ke wilayah Ish, tepi
Laut Merah yang dikomandani Hamzah. Pasukan ini nyaris bentrok dengan pasukan
Abu Jahal. Pasukan Ubaidah bin Harith yang dikirim ke Wadi Rabigh -
Hijaz-berpapasan dengan tentara Abu Sofyan. Pasukan Saad bin Abi Waqash pun
berpatroli ke Hijaz.
Rasulullah saw. bahkan memimpin sendiri milisi Muslim. Itu
dilakukannya setelah setahun di Madinah. Mula-mula ia pergi ke Abwa dan Wadan.
Kedua, ia memimpin 200 pasukan ke Buwat. Ketiga, Rasulullah saw. pergi ke
'Usyaira di mana ia tinggal selama bulan Jumadil Awal hingga awal Jumadil
Akhir. Saat Rasulullah saw. pergi, kepemimpinan di Madinah diserahkan pada Saad
bin Ubadah, dan kemudian Abu Salama bin Abdul As'ad. Hasil misi tersebut adalah
kesepakatan persekutuan dengan Bani Dzamra dan Bani Mudlij. Hal ini memperkuat
posisi Madinah dalam berperang dengan Mekah.
Namun bentrok tak terhidarkan. Pasukan Kurz bin Jabir dari
Mekah menyerang pinggiran Madinah, merampas kambing dan unta. Rasulullah saw. —setelah
menyerahkan kepemimpinan di Madinah—memimpin sendiri pasukan mengejar Kurz.
Banyak yang menyebut peristiwa ini sebagai Perang Badar pertama. Kemudian
pasukan Muslim pimpinan Abdullah bin Jahsy bentrok dengan rombongan Qurais
pimpinan Amr bin Hadzrami. Amr tewas terpanah oleh Waqid bin Abdullah Attamimi.
Dua orang Quraisy tertawan.
Setelah itu, Rasulullah saw. dan pasukan pergi ke Badar
untuk memotong jalur perdagangan Mekah dan Syam. Abu Sofyan, pemimpin kafilah
yang hendak pulang dari Syam, mengirim kurir minta bantuan penduduk Mekah. Abu
Jahal segera memobilisasi bantuan itu.
Pada hari kedelapan bulan Ramadhan, tahun kedua hijriah,
pasukan Muslim bergerak. Setiap tiga atau empat orang menggunakan satu unta,
naik bergantian. Tanpa kecuali Rasulullah saw. yang bergantian dengan Ali serta
Marthad bin Marthad. Rombongan berjumlah 305 orang. Mereka terdiri dari 83
muhajirin, 61 orang Aus, yang lain orang Khazraj. Pimpinan kota Madinah
diserahkan pada Abu Lubaba, sedang imam masjid pada Ibnu Ummi Maktum.
Siasat segera dibangun. Mulai dari posisi pasukan hingga
mengukur kekuatan lawan. Rasulullah saw. semula menetapkan posisi di suatu
tempat. Sahabatnya, Hubab, bertanya apakah posisi itu merupakan petunjuk dari
Allah? Setelah dijawab "bukan", Hubab menyarankan suatu strategi.
Yakni memilih posisi di ujung depan, sehingga sumur-sumur berada di
belakangnya. Dengan demikian, kaum Qurais berperang tanpa akses air. Sedangkan
muslim punya banyak cadangan air.
Selain itu, Saad bin Mudhab juga membangun gubuk sebagai pos
bagi Rasulullah saw. untuk memberikan komando. Ia keberatan bila Rasulullah
saw. berada di garis depan. Dengan demikian, jika pasukan Muslim kalah, Rasulullah
saw. tak dapat ditawan lawan, melainkan dapat segera mengorganisasikan pasukan
baru yang tinggal di Madinah. Rasulullah saw. saw. juga menaksir jumlah
kekuatan lawan dari banyaknya unta yang dipotong. Dengan 9-10 unta dipotong
setiap hari, berarti kekuatan lawan sekitar 1000 orang.
Beberapa kaum Qurais sempat berpikir untuk menghindari
perang. Bagaimanapun antara mereka mempunyai hubungan kekerabatan. Namun Abu
Jahal berkeras. Aswad bin Abdul Asad lalu menerjang maju, dan langsung
tersungkur oleh pedang Hamzah. Kemudian dua bersaudara Uthba' dan Syaiba bin
Rabia, serta Walid anak Uthba maju bersama yang segera disongsong Hamzah, Ali
dan Ubaida bin Harits. Ketiga penyerang itu tewas.
Serentak pertempuran berlangsung di semua lini. Bilal bin
Rabah menewaskan bekas tuannya, Umayyah. Abu Jahal tewas di tangan Mu'azh.
Perang berkecamuk persis pada tanggal 17 di tengah terik bulan Ramadhan. Qurais
kalah telak. Beberapa orang ditawan. Rasulullah saw. memerintahkan eksekusi
langsung pada dua orang yang dikenal sangat sering menjelek-jelekkan Islam,
Nadzr bin Harith dan Uqba anak Abi Muait.
Sempat terjadi perdebatan di kalangan muslim. Abu Bakar
yang dikenal lemah lembut, meminta agar tawanan ditahan secara wajar sampai
kaum Qurais -sesuai tradisi masa itu-menebusnya. Umar yang
tegas minta agar semua tawanan dibunuh. Rasulullah saw. memutuskan yang
pertama.
Mereka yang berasal dari keluarga kaya, harus membayar mahal
tebusan. Sedangkan yang miskin dapat dibebaskan tanpa membayar apapun. Zainab
-putri Rasulullah saw. yang tinggal di Mekah-membebaskan suaminya, Zaid bin
Haritsa dengan cincin peninggalan Khadijah. Zaid dibebaskan namun diminta
menceraikan Zainab. Suatu saat Zaid kembali ditawan muslim di Madinah, ia lalu
masuk Islam dan kembali menikah dengan Zainab.
Suasana di Mekah sangat muram. Abu Lahab, sepulang perang,
kemudiam demam sampai ia meninggal. Namun Hindun bin Uthba -istri Abu
Sufyan-justru menggalang kembali kekuatan. Ia bersumpah akan membalas dendam
kematian ayah, paman serta saudara di perang itu. Ia buktikan sumpahnya dalam
Perang Uhud.
Adapun di Madinah, di saat Rasulullah saw. dan pasukannya
pergi ke Badar, ketegangan mencuat antara Muslim dengan Yahudi. Seorang Yahudi,
Ka'ab diketahui memprovokasi kalangannya agar mengganggu para perempuan muslim.
Puncaknya adalah ketika Yahudi mengait baju perempuan Muslim hingga kainnya
tersingkap. Mereka ramai-ramai menertawakan perempuan itu.
Seorang muslim mencabut pedangnya dan membunuh laki-laki
Yahudi itu. Ia kemudian juga dibunuh. Ka'ab kemudian dibunuh oleh orang-orang
Islam. Demikian juga dua orang Yahudi yang selalu mengata-ngatai Islam, Abu
Afak dan Ashma.
Setelah Rasulullah saw. kembali ke Madinah, Yahudi Bani
Qainuqa pembuat onar dan melanggar kesepakatan damai itu mereka kucilkan.
Kabilah tersebut kemudian pindah ke Adhriat -ke arah Yerusalem. Untuk
sementara, kehidupan Madinah kembali tenang.
Bersambung…
0 komentar:
Posting Komentar